Minggu, 08 Mei 2011

WATERBIRTH

PROSES PERSALINAN DI DALAM AIR (WATERBIRTH)

Sedikit ulasan dari www.harian-global.com tentang water birth:
Rasa sakit saat melahirkan merupakan kodrat wanita. Tapi jangan khawatir, rasa sakit itu kini sudah dapat “diakali”.
Para calon ibu kini dapat memilih proses melahirkan di dalam air (water birth) yang dapat mengurangi, bahkan menurut sebagian ibu- menghilangkan rasa sakit! Anak yang dilahirkan sehat, si ibu juga segar.
Di luar negeri seperti Rusia dan Australia, metode melahirkan di air cukup lama dipraktikkan, sementara di Indonesia baru dikenal sekitar setahun terakhir. Kendati metode melahirkan di air ini belum begitu populer di Indonesia, namun sejumlah tempat di Jakarta seperti Sam Marie Hospital dan sebuah klinik bersalin di Desa Ubud, Bali sudah melaksanakan proses melahirkan di air ini.
Liz Adianti (33 tahun) adalah ibu Indonesia yang pertama kali melakukannya, tepatnya pada Oktober 2006. Wanita yang bekerja sebagai karyawati sebuah operator seluler ini mengaku ketertarikannya dengan metode melahirkan ini. Diawali dari kekhawatirannya akan rasa sakit saat melahirkan normal, ia lantas mencari informasi hal apa yang dapat mengurangi rasa sakit tersebut.
“Sebenarnya saya sudah ingin melakukannya sejak kehamilan anak pertama, peralatannya pun sudah dibeli dan disiapkan bersama suami, tapi karena di Indonesia belum populer kami pun sulit mendapat perizinan medis dari rumah sakit. Akhirnya, saya baru bisa mewujudkannya saat kelahiran anak kedua,” ungkap Liz.
Dia menambahkan, berkurangnya rasa sakit kemungkinan disebabkan ibu berendam dalam air hangat yang membuat rileks dan nyaman, sehingga rasa sakit dan stres pun berkurang. Hal itu dibenarkan dr T Otamar Samsudin SpOG (Spesialis Obstetri dan Ginekologi). Menurut dia, mengurangi rasa sakit adalah tujuan utamanya, sedangkan secara teknis melahirkan dalam air pada dasarnya sama seperti melahirkan normal.
Menurut dr.T. Otamar , SpOG, :
“Saat melahirkan di dalam air, rasanyeri akan berkurang ketimbang saat melahirkan di atas ranjang. Pasalnya, sirkulasi darah uterus lebih baik, sehingga sang ibu yang akan melahirkan merasa lebih rileks. Di rahim,bayi tidak bernafas seperti bayi yang ada di darat, karena kadar prostaglandin-nya masih tinggi sehingga otot diafragma belum berfungsi. Untuk itu tidak jadi masalah bagi bayi yang baru lahir meluncur di dalam air, asalkan begitu lahir, langsung diambil.
Proses Melahirkan
Proses dan melahirkan dia air sama saja dengan melahirkan normal, hanya tempatnya yang berbeda. Dilakukan di dalam sebuah kolam cukup besar (berukuran 2 meter) yang terbuat dari plastik dengan benjolan-benjolan pada alasnya agar posisi ibu tidak merosot.
“Posisi saat akan melahirkan bisa sambil duduk, sambil nungging, atau terserah bagaimana nyamannya si ibu,” ujarnya.
Selain kolam plastik, fasilitas pendukung lainnya adalah pompa pengatur agar air tetap bersirkulasi, water heater untuk menjaga air tetap hangat, serta termometer untuk mengukur suhu. Kolam yang sudah disterilisasi kemudian diisi air yang suhunya disesuaikan dengan suhu tubuh, yaitu sekitar 36-37°C.
“Ini bertujuan agar bayi tidak merasakan perbedaan suhu yang ekstrem antara di dalam perut dengan di luar, dan agar bayi tidak mengalami hipotermia,” ungkap Otamar.
Selanjutnya ibu mengejan seperti biasa. Mengingat tempatnya di air, bayi yang baru keluar otomatis terendam dulu selama beberapa saat di dalam air (sekitar 5-10 detik). Ini tidak masalah karena suhu air hampir sama dengan suhu cairan ketuban tempat si bayi “berenang” sebelum dilahirkan.
“Itu sebabnya ketika baru keluar, si bayi tidak menangis, mungkin dia merasa seolah seperti belum lahir karena kondisinya sama antara di dalam dan di luar,” tutur Otamar.
Risiko dan Prasyarat
Metode Waterbirth ini perlu dipertimbangkan bagi sang ibu yang kondisinya tidak memungkinkan untuk memakai metode ini , seperti bagi ibu yang memiliki kondisi preeklamasia (ada kemungkinan bayi prematur, bayi kembar, sungsang, perdarahan, infeksi herpes), karena virus herpes tidak mati di air hangat, sehingga dapat menular pada bayi yang baru lahir melalui mata, selaput lender dan tenggorokan bayi.
Syarat lainnya, proses melahirkan di dalam air tidak bisa dilakukan sembarangan, kendati terlihat mudah. Pengawasan dari pihak medis tetap diperlukan untuk menjaga terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Aspek higienitas juga memegang peranan penting karena bayi yang baru lahir rentan infeksi. Kolam plastik yang digunakan harus dipastikan benar-benar bersih dan steril. Selain itu, penggunaan air hangat juga bisa membunuh virus dan bakteri. Lantas bagaimana dengan kemungkinan air terminum oleh bayi? Dokter T Otamar Samsudin SpOG mengatakan, hal itu sebetulnya tidak masalah asalkan air dipastikan steril.
“Jika air terminum oleh si bayi, sebetulnya tidak masalah dan kita semua toh sudah biasa minum air. Bayi juga tidak akan terinfeksi karena airnya encer dan steril (air hangat). Yang berbahaya adalah kalau si bayi minum air ketuban karena bisa tersangkut di paru-parunya,” pungkasnya. (berbagai sumber)
Keuntungan melahirkan di Air
1)    Rileks dan nyaman. “Rasanya sehabis berenang saja , segar dan tidak berkeringat, “ kata ibu Liz Adiyanti.
2)   Si jabang bayi bersih karena tidak banyak darah yang keluar.
3)   Mengurangi rasa stress.
4)   Rasa nyeri saat melahirkan berkurang dibandingkan dengan  melahirkan di atas tempat tidur, dan proses persalinan akan lebih cepat ketimbang melahirkan di darat.
5)   Perineum menjadi lebih elastis dan relaks, robekan/episiotomi dapat dihindarkan.
6)   Ketika proses persalinan, sang ibu dapat mengubah – ubah posisi sesuai keinginan.
7)   Otot bayi lebih relaks, panggung lebih terbuka lebar, sehingga bayi keluar lebih lancer.
8)   Air kolam yang hangat membuat bayi berasa masih di dalam air ketuban.
9)   Air bersifat menyejukkan, membuat nyaman, dan meningkatkan energi.
10) Daya apung mengurangi berat badan mama, memungkinkannya untuk bergerak lebih bebas. Juga menghasilkan kontraksi yang lebih efisien. Aliran darah pun akan mengalir lebih lancer.
Kekurangan melahirkan di Air
Rasa nyaman pada sang ibu saat berendam di dalam air membuat sang ibu malas untuk mengejan.
Tips Melahirkan di Air
  1. Pertama-tama yang penting kemauan dan keyakinan untuk melahirkan di air.
  2. Mengikuti senam hamil saat kehamilan, untuk pernapasan dan kelenturan lubang vagina sehingga memudahkan kelahiran si bayi.
  3. Untuk media kolamnya Anda tidak perlu khawatir, karena biasanya rumah sakit yang melayani melahirkan di air menyediakan fasilitas untuk itu. Dan untuk menjaga kesterilan, setiap ibu mendapat 1 kolam.
  4. Menyiapkan data lengkap, seperti cek laboratorium.
Apakah air hangat tidak berbahaya bagi kehamilan?
Tergantung dari temperaturnya. Jika air terlalu panas, dapat berisiko terjadinya dehidrasi bagi mama dan bayinya, juga dapat menaikkan suhu tubuh mama dan detak jantung bayi.  Jadi, pastikan temperatur air stabil di suhu 36 derajat C dan jumlahnya cukup. Sebaiknya sediakan air minum yang cukup dan kain dingin untuk menyeka muka dan leher mama, untuk mencegah mama mengalami dehidrasi.
Berapa lama bayi dapat bertahan di dalam air?
Di Amerika Serikat, biasanya bayi dikeluarkan dari air pada 10 detik pertama setelah kelahirannya. Langkah yang tepat dilakukan adalah mengangkat si bayi tanpa tergesa-gesa dan menidurkannya di gendongan mama.
Hal – hal yang harus Anda ketahui :
  • Secara teknis, melahirkan di air sama saja dengan melahirkan denag cara normal yang membedakan hanya tempatnya. Melahirkan di air menggunakan kolam yang berisi air (tub yang di desai special) yang biasanya berukuran besar (berdiameter 2m)
  • Di dalam tub special tersebut terdapat benjolan – benjolan yang berfungsi untuk menahan posisi ibu saat melahirkan agar tidak terperosot. Ibu juga dapat mengatur posisinya sendiri saat melahirkan.
  • Terdapat pompa pengatur agar air tetap bersirkulasi. Water heater agar air tetap hangat dan thermometer untuk mengukur suhu kolam.
  • Ibu akan masuk ke tub ketika sudah mencapai pembukaan 5. prosesi melahirkan ini biasanya berlangsung lebih cepat yaitu 1,5 – 2 jam.
  • Kolam untuk melahirkan di air harus berada dalam keadaan steril. Air yang dialirkan harus hangat dan steril, selain untuk menciptakan lingkungan yang sama dengan lingkungan di dalam rahim, air hangat juga dapat membunuh bakteri dan virus.
  • Air yang dialirkan biasanya sebatas payudara ibu, hal ini yang dimaksudkan dokter agar dapat tetap mengawasi kontraksi saat melahirkan terhadap si ibu.
  • Tenaga medis yang diperlukan untuk melahirkan di air diantaranya dokter kandungan, dokter anak, bidan, asisten bidan, perawat bayi, serta teknisi yang menjaga stabilitas generator kalau sewaktu-waktu mati.
  • Jangan panic ketika beberapa saat berada di dalam air dan tidak menangis ketika telah keluar dari rahim ibu. Bayi akan tetap bernafas  selama tali ari – ari masih tersambung dengan perut ibu. Melalui tali ari-ari ini bayi dapat tetap bernafas. Tali ari-ari akan segera di potong oleh dokter setelah bayi tidak berada di dalam air. Dan ketika bayi berada di permukaan maka bayi baru mulai bernapas dan menangis.
  • Setelah bayi lahir, pastikan si ibu mengangkat dan menggendong si bayi agar tercipta kontak antara ibu dan bayi. Dan sangat baik bagi para ibu, jika saat bayi lahir, ibu langsung menyusuinya.













“ANALISIS”

Persalinan di Air adalah hal baru dalam kesehatan dan ini merupakan suatu kemajuan. Biasanya ibu melahirkan di darat khususnya di tempat tidur. Sekarang sudah ada saja melahirkan di dalam air. Ini yang disebut dengan waterbirth. Menurut saya metode melahirkan dalam air ini, bagus sekali untuk ibu hamil, karena ibu tidak perlu stress lagi dalam menghadapi persalinan. Hal ini disebabkan karena adanya relaksasi terhadap seluruh otot tubuh karena brendam dalam air hangat yang steril yang telah di atur dalam suhu 34˚ C sehingga tubuh ibu menjadi rileks dan pada saat inilah hormon endorphin dikeluarkan oleh tubuh ibu dan ini yang menyebabkan rasa nyeri berkurang.
Spesialis Obstetri dan Ginekologi dr. T. Otamar Samsudin mengatakan “bahwa melahirkan dalam air membuat sirkulasi darah uterus menjadi lebih baik, sehingga sang ibu yang akan melahirkan merasa lebih rileks”.
Tapi metode melahirkan di air ini, tidak terlalu banyak di terapkan di Indonesia dan bahkan tidak banyak orang yang tahu. Karena disini orang – orang lebih banyak mengetahui hanya di atas tempat tidur bukannya di air. Mungkin ada, tapi hanya beberapa klinik bersalin yang menggunakan metode waterbirth ini, seperti di Jakarta. Kecuali di Negara – Negara maju Rusia dan Amerika, karena alat – alat kesehatan disana yang yang sudah maju.
Dalam metode ini ada hal yang harus diperhatikan seorang bidan atau petugas medis yang menangani proses melahirkan di air ini. Yaitu hanya ibu yang dalam kondisi normal saja yang boleh melakukan waterbirth ini. Sedangkan ibu yang memiliki kondisi premature, bayi kembar, sungsang, perdarahan, infeksi herpes, tidak boleh melakukannya karena virus herpes tidak mati di air hangat, sehingga dapat menular pada bayi yang baru lahir.
Dan bidan juga harus lebih teliti dalam memberi pengawasan terhadap bayi, karena bayi masih rentan dengan infeksi. Perakitan atau kolam yang bersih dan steril sangat diperlukan sekali. Karena tub yang bersih dan steril akan membunh bakteri dan virus, sehingga aman bagi bayi.
Dari keuntungan yang diperoleh dalam waterbirth ini, seperti ibu bebas melakukan posisi apa saja yang bisa membuat dia nyaman, tapi ada satu hal yang menjadi kekurangan dalm waterbirth ini, yaitu ibu menjadi malas untuk mengejan.
Dalam waterbirth ini bidan harus menanyai kepada ibu, apakah dia yakin akan melahirkan di air, selanjutnya membantu ibu untuk melakukan senam hamil dan segala sesuatu yang dibutuhkan ibu.






SUMBER :

puskesmas

Pusat Kesehatan Masyarakat

1.      Defenisi
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.
2.      Fungsi Puskesmas
ð  Puskesmas merupakan pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan
ð  Puskesmas merupakan pusat pemberdayaan masyarakat
ð  Puskesmas merupakan pusat pelayanan kesehatan strata pertama, yang terdiri atas pelayanan kesehatan individu dan pelayanan kesehatan masyarakat.
3.      Sejarah Perkembangan Puskesmas
Sejarah dan perkembangan puskesmas di Indonesia mulai dari didirikannya berbagai institusi kesehatan seperti balai pengobatan, balai kesejahteraan ibu dan anak, serta diselenggarakannya berbagai upaya-upaya kesehatan seperti usaha hygiene dan sanitasi lingkungan yang masing-masinh berjalan sendiri-sendiri. Pada pertemuan Bandung Plan (1951) dr. J. Leimena mencetuskan pemikiran mengintegrasikan berbagai institusi dan upaya tersebut dibawah satu pimpinan agar lebih efektif dan efisien.
Konsep ini kemudian diadopsi oleh WHO. Konsep pelayanan yang terintegrasi lebih berkembang dengan pembentukan team work dan team approach dalam pelayanan kesehatan (1956). Gagasan ini dirumuskan sebagai konsep pengembangan sistem pelayanan kesehatan tingkat primer dengan membentuk unit-unit organisasi fungsional dari Dinas Kesehatan Kabupaten di setiap kecamatan yang mulai dikembangkan sejak tahun 1969/1970. Penggunaan istilah puskesmas pertama kali dimuat pada Master Plan of Operation for Strenghtening National Health Service in Indonesia Tahun 1969. Dalam dokumen tersebut disebutkan puskesmas terdiri atas 3 tipe puskemas (tipe A, tipe B, tipe C). Kemudian dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional ke III tahun 1970 menetapkan hanya ada satu tipe puskesmas dengan 6 kegiatan pokok. Perkembangan selanjutnya lebih mengarah pada penambahan kegiatan pokok seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemampuan pemerintah serta keinginan program ditingkat pusat, sehingga kegiatan berkembang menjadi 18 kegiatan pokok, bahkan DKI Jakarta mengembangkan menjadi 21 kegiatan pokok.


4.      Wilayah Perkembangan Puskesmas
Secara nasional, standar wilayah kerja puskesmas adalah satu kecamatan, tetapi apabila di satu kecamatan terdapat lebih dari satu puskesmas, maka tanggung jawab wilayah kerja dibagi antar puskesmas dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah (desa/kelurahan atau RW). Masing-masing puskesmas tersebut secara operasional bertanggung jawab langsung kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
5.      Struktur Organisasi dan Tata Kerja Puskesmas
Struktur Organisasi
Struktur organisasi puskesmas tergantung dari kegiatan dan beban masing – masing puskesmas. Penyusunan struktur organisasi puskesmas di satu kabupaten/kota dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota, sedangkan penetapannya dilakukan dengan peraturan daerah.
Sebagai acuan dapat dipergunakan pola struktur organisasi puskesmas sebagai berikut :
a)      Kepala puskesmas
Wakil Kepala (disesuaikan beban kerja dan  kebutuhan puskesmas dan yang menetapkan ada atau tidak adalah Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota).

b)      Unit tata usaha
Unit tata usaha yang bertanggung jawab membantu kepala puskesmas dalam pengelolaan :
Ø  Data dan informasi
Ø  Perencanaan dan penilaian
Ø  Keuangan
Ø  Umum dan kepegawaian
c)      Unit pelaksana teknis fungsional puskesmas:
ü  Upaya kesehatan masyarakat termasuk pembinaan terhadap UKBM
ü  Upaya kesehatan perorangan
d)     Jaringan pelayanan puskesmas
§  Unit puskesmas pembantu
§  Unit puskesmas keliling
§  Unit bidan di Desa/Komunitas
Tugas pokok :
1.      Kepala Puskesmas
Bertugas memimpin, mengawasi dan mengkoordinasikan kegiatan puskesmas yang dapat dilakukan dalam jabatan structural, dan jabatan fungsional.
2.      Kepala urusan tata usaha
Bertugas dibidang kepegawaian, keuangan perlengkapan dan surat menyurat serta pencatatan dan pelaporan.
3.      Unit I
Bertugas melaksanakan kegiatan kesejahteraan ibu dan anak, keluarga berencana dan perbaikan gizi.
4.      Unit II
Melaksanakan kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular khususnya imunisasi, kesehatan lingkungan dan laboratorium sederhana.
5.      Unit III
Melaksanakan kegiatan kesehatan gigi dan mulut, kesehatan tenaga kerja dan manula.
6.      Unit IV
Melaksanakan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat, kesehatan sekolah dan olahraga, kesehatan jiwa, kesehatan mata dan kesehatan khusus lainnya.
7.      Unit V
Melaksanakan kegiatan pembinaan dan pengembangan upaya masyarakat dan penyuluhan kesehatan masyarakat, kesehatan remaja dan dana sehat.
8.      Unit VI
Melaksanakan kegiatan pengobatan rawat jalan dan rawat inap
9.      Unit VII
Melaksanakan kegiatan kefarmasian.
Tata Kerja
Tata kerja koordinasi fungsional, adalah sebagai berikut:
-          Antara Puskesmas dengan RSU dalam bidang pelayanan medic
-          Antara Puskesmas dengan Camat dan Badan Penyantun Puskesmas dalam bidang pembangunan kesehatan di wilayah Kecamatan.
6.      System Regulasi Puskesmas
1.      Pengertian
Seperti yang telah dirumuskan dalam SK Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 1972 tentang Sistem Rujukan adalah suatu system penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggungjawab timbal balik terhadap suatu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal dalam arti dari unit yang berkemampuan kurang kepada unit yang lebih mampu atau secara horizontal dalam arti antar unit-unit yang setingkat kemampuannya.
2.      Jalur Rujukan Kesehatan
a.       Rujukan Pelayanan Medis :
1)      Antara masyarakat dengan puskesmas
2)      Antara Puskesmas Pembantu/Bidan di Desa dengan Puskesmas
3)      Intern antara petugas Puskesmas/Puskesmas Rawat Inap
4)      Antara Puskesmas dengan Rumah Sakit, Laboratorium atau fasilitas pelayanan lainnya.

b.      Rujukan Pelayanan Kesehatan :
1)      Dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
2)      Dari Puskesmas ke instansi lain yang lebih kompeten baik intrasektoral    maupun lintas sektoral.
3)      Jika rujukan di Kabupaten/Kota masih belum mampu menanggulangi, dapat diteruskan ke Provinsi/Pusat.
7.      Stratifikasi Puskesmas
o   Pengertian
Adalah upaya untuk melakukan penilaian prestasi kerja puskesmas, dalam rangka perkembangan fungsi puskesmas sehingga dalam rangka fungsi  puskesmas dapat dilaksanakan lebih terarah.
o   Tujuan
a.       Mendapatkan gambaran secara menyeluruh perkembangan puskesmas dalam rangka mawas diri
b.      Mendapatkan masukan untuk perencanaan puskesmas dalam waktu mendatang
c.       Mendapatkan informasi tentang masalah dan hambatan pelaksanaan puskesmas sebagai masukan untuk pembinaan lebih lanjut  
o   Pengelompokan Stratifikasi
Pengelompokan Strata dibagi menjadi 3
1.      Strata I Puskesmas dengan Prestasi kerja Baik (warna hijau)
2.      Strata II Puskesmas dengan Prestasi kerja Cukup (warna kuning)
3.      Strata III Puskesmas dengan Prestasi kerja Kurang(warna merah)
o   Sasaran dari stratifikasi puskesmas adalah :
1.      Puskesmas tingkat kecamatan
2.      Puskesmas tingkat Kelurahan ( puskesmas pembantu )
3.      Unit-unit kesehatan lain
4.      Pembinaan peran serta masyarakat
8.      Perencanaan Mikro Puskesmas
1)      Pengertian
Perencanaan micro tingkat puskesmas adalah penyusunan rencana tingkat puskesmas untuk 5 tahun, termasuk rincian tiap tahunnya.
2)      Tujuan Umum
Meningkatkan cakupan pelayanan program prioritas sesuai dengan masalah yang dihadapi puskesmas sehingga meningkatkan fungsi puskesmas.
3)      Tujuan Khusus
ü  Tersusunnya rencana kerja puskesmas untuk jangka waktu 5 tahun secara tertulis.
ü  Tersusunnya rencana kerja tahunan puskesmas, sebagai penjabaran rencana kerja 5 tahunan.
4)      Langkah dalam penyusunan
o   Identifikasi keadaan dan masalah
o   Penyusunan Rencana
Perencanaan yang disusun berdasarkan preoritas masalah yang disusun secara sistematis. 
o   Penyusunan Rencana Pelaksanaan ( Plan of Action )
o   Penulisan dokumen
1.      Pendahuluan
2.      Keadaan dan masalah
3.      Tujuan dan sasaran
4.      Pokok kegiatan dan pentahapan
5.      Kebutuhan sumber daya
6.      Pemantauan dan penilaian
7.      Penutup
9.      Lokakarya Mini Puskesmas
o   Definisi
Upaya untuk menggalang kerjasama tim untuk penggerakan dan pelaksanaan upaya kesehatan puskesmas sesuai dengan rencana yang telah disusun dari tiap-tiap upaya kesehatan pokok puskesmas, sehingga dapat dihindarkan terjadinya tumpang tindih dalam pelaksanaan kegiatannya.
o   Tujuan Umum
Meningkatkan kemampuan tenaga puskesmas bekerja sama dengan tim dan membina kerjasama lintas program dan lintas sektoral.


Tujuan Khusus
§  Terlaksananya kerjasama tim lintas program
§  Terlaksananya kerjasama lintas sektoran dalam rangka pembinaan PSM
§  Terlaksananya rapat kerja bulanan
§  Terlaksananya rapat kerja triwulan dan pembinaan kerjasama lintas Sektoral
o   Ruang lingkup
§  Menggalang kerjasama tim dari masing-masing anggota
§  Meningkatkan kebanggaan dan semangat membela keberhasilan tim
Komponen
§  Penggalangan kerjasama dalam tim puskesmas
§  Penggalangan kerjasama lintas sektoral
§  Rapat kerja bulanan puskesmas
§  Rapat kerja triwulan lintas sektoral
10.  Supervisi Puskesmas
§  Definisi
Upaya pengarahan dengan cara mendengar alasan dan keluhan-keluhan tentang masalah dalam pelaksanaan dan memberikan petunjuk serta saran-saran dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi pelaksana, sehingga meningkatkan daya guna dan hasil guna serta kemampuan pelaksana dalam melaksanakan upaya kesehatan puskesmas.
§  Tujuan Umum
Terselenggaranya upaya kesehatan puskesmas secara berhasil guna dan berdayaguna.
§  Tujuan Khusus
Terselenggaranya program upaya kesehatan puskesmas sesuai dengan pedoman     pelaksanaan
§  Kekeliruan dan penyimpangan dapat diluruskan
§  Meningkatkan mutu pelayanan
§  Meningkatkan hasil pencapaian puskesmas
§  Meningkatkan hasil pencapaian pelayanan puskesmas
11.  Sistem Pencatatan Dalam Pelayanan Terpadu Puskesmas
o   Pengertian
adalah tata cara pencatatan dan pelaporan yang lengkap untuk pengelolaan puskesmas, meliputi keadaan fisik, tenaga sarana dan kegiatan pokok yang dilakukan serta hasil yang dicapai oleh puskesmas.
o   Tujuan   :
-          Tersedianya data yang meliputi keadaan fisik, tenaga, sarana dan kegiatan pokok puskesmas secara akurat tepat waktu dan mutakhir
-          Terlaksananya pelaporan data-data secara teratur di berbagai jenjang administrasi sesuai dengan peraturan  yang berlaku
-          Dipergunakan data tersebut untuk pengambilan keputusan dalam rangka pengelolaan program kesehatan masyarakat melalui puskesmas diperbagai tingkat administrasi
o   Ruang Lingkup
ü  SP2TP dilakukan oleh semua puskesmas termasuk puskesmas Pembantu dan Puskesmas Keliling.
ü  Pencatatan dan pelaporan mencakup :
Ø  Data umum dan demografi wilayah kerja puskesmas
Ø  Data ketenagaan di puskesmas
Ø  Data Sarana yang dimiliki puskesmas
Ø  Data kegiatan pokok puskesmas (18 upaya pokok) baik didalam gedung maupun diluar gedung.
ü  Pelaporan dilakukan secara periodik (bulanan,tribulanan,semester dan tahunan)
o   Pemanfaatan Data SP2TP
ü  Untuk memenuhi kebutuhan administrasi pada jenjang yang lebih tinggi dalam rangka pembinaan, perencanaan dan penetapan kebijaksanaan
ü  Dimanfaatkan puskesmas untuk peningkatan upaya kesehatan puskesmas

o   Pelaporan
Jenis dan periode laporan :
Ø  Bulanan
ð  Data kesakitan
ð  Data kematian
ð  Data opersional (gizi, imunisasi,KIA,KB,dsb)
ð  Data manajemen obat
Ø  Triwulan
ð  Data kegiatan puskesmas
Ø  Tahunan
ð  Umum dan fasilitas          
ð  Sarana dan tenaga



sumber :
Efendy,Nasrul.1998.Dasar-dasar Keperwatan Kesehatan Masyarakat .Jakarta:EGC
Promosi Kesehatan di  Puskesmas dan Rumah Sakit / Bambang Hartono.- Jakarta : Rineka Cipta,2010
Trihono.2005.Arrimes Manajemen Puskesmas. Jakarta: CV. SAGUNG SETO
http://dr-suparyanto.blogspot.com/2011/02/konsep-dasar-pusat-kesehatan-masyarakat.html
http://keperawatankomunitas.blogspot.com/2009/06/manajemen-puskesmas.html